Denza N9 Siap Debut 21 Maret 2025, Bocoran Harga SUV Listrik Mewah Ini

Denza, sub-brand mewah milik BYD, akan segera meluncurkan SUV listrik terbarunya yang dijuluki N9. Dengan rencana debut pada 21 Maret 2025, Denza N9 dijanjikan akan menjadi pilihan unggulan di segmen kendaraan listrik premium, menggabungkan inovasi mutakhir dan desain elegan.

Menurut laporan dari Carnewschina, Denza N9 dirancang untuk menarik perhatian konsumen yang menginginkan kombinasi kemewahan, performa tinggi, dan teknologi canggih. SUV listrik asal Tiongkok ini memiliki desain futuristik dengan garis bodi aerodinamis yang diimbangi dengan lampu LED ramping yang menambah kesan modern dan stylish. Tak hanya tampilan luar yang mengesankan, interior Denza N9 juga menawarkan kenyamanan luar biasa, dilengkapi dengan material premium dan fitur teknologi terkini yang memastikan pengalaman berkendara yang tak terlupakan bagi setiap penumpang.

Bocoran foto yang beredar di dunia maya menunjukkan bahwa Denza N9 siap bersaing ketat dengan merek-merek otomotif ternama di pasar global, khususnya di segmen SUV listrik. Dengan performa yang tak kalah menarik, SUV ini dilaporkan memiliki kemampuan daya jangkau hingga 600 kilometer dengan sekali pengisian daya. Angka tersebut menjadikannya salah satu pilihan menarik bagi konsumen yang menginginkan efisiensi energi tanpa mengorbankan performa.

Harga Denza N9 diperkirakan akan berkisar antara 300.000 hingga 400.000 yuan, setara dengan Rp 620 juta hingga Rp 825 juta. Meskipun berada di kelas premium, harga tersebut dianggap sebanding dengan berbagai fitur canggih yang ditawarkan, termasuk sistem infotainment modern dan teknologi keselamatan terdepan yang memastikan kenyamanan dan keamanan pengendara serta penumpang.

Denza N9 didasarkan pada platform e3 yang inovatif, yang dilengkapi dengan sistem kontrol udara cerdas DiSus-A. Model ini juga memiliki kapasitas untuk mengakomodasi hingga tiga motor listrik yang menghasilkan daya total sebesar 912 tenaga kuda (tk), menjadikannya salah satu SUV listrik dengan performa luar biasa. Untuk varian plug-in hybrid (PHEV), Denza N9 memadukan mesin bensin 2.0T yang menghasilkan 204 tk dengan tiga motor listrik berkapasitas masing-masing 200 kW dan 240 kW.

Kombinasi mesin dan motor listrik ini memungkinkan Denza N9 mencapai akselerasi 0 hingga 100 km/jam dalam waktu kurang dari tiga detik, menjadikannya salah satu SUV listrik tercepat di kelasnya. Dengan segala keunggulan ini, Denza N9 siap menjadi bintang baru di dunia otomotif, menawarkan pengalaman berkendara yang luar biasa bagi para pecinta mobil listrik mewah.

Menjelang peluncurannya pada Maret 2025, Denza N9 semakin menambah persaingan di pasar kendaraan listrik premium, dengan menawarkan performa dan fitur yang siap memenuhi kebutuhan para konsumen yang mendambakan mobil listrik dengan desain, kenyamanan, dan kemampuan teknis terbaik.

BMW Gugat Nama BYD M6, Apakah Berpengaruh pada Penjualannya?

Jakarta – Kehadiran BYD M6 di pasar otomotif Indonesia langsung menarik perhatian masyarakat, berkat keberhasilannya meraih status sebagai MPV listrik terlaris. Namun, meskipun sukses besar di pasar, BYD kini dihadapkan pada sengketa hukum dengan BMW AG mengenai penggunaan nama “M6”.

BYD M6: Raksasa MPV Listrik yang Melejit di Indonesia

Setelah resmi memasuki pasar Indonesia pada awal tahun 2024, BYD langsung menghadirkan sejumlah model mobil listrik unggulan, seperti Dolphin, Seal, dan Atto 3. Namun, di tengah perkenalannya, M6 yang diluncurkan pada Juli 2024 mencuri perhatian publik. MPV listrik ini meraih penjualan yang sangat signifikan, mencatatkan 6.124 unit terjual sepanjang tahun 2024, menurut data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pencapaian luar biasa ini bahkan berlanjut pada Januari 2025, di mana BYD M6 berhasil terjual 581 unit hanya dalam waktu sebulan.

BMW Mengajukan Gugatan Hukum atas Penggunaan Nama “M6”

Di balik keberhasilan ini, muncul masalah hukum yang mengancam. BMW AG mengajukan gugatan terhadap BYD Indonesia terkait penggunaan nama “M6” untuk model MPV listrik mereka. Gugatan tersebut sudah tercatat di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan nomor perkara 19/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst. BMW mengklaim bahwa mereka telah lebih dulu mendaftarkan nama “M6” untuk mobil sport mewah mereka dan memiliki hak eksklusif atas merek tersebut.

Data dari Pangkalan Data Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) mengungkapkan bahwa BMW telah memegang hak atas nama “M6” sejak 20 Agustus 2015. Sementara itu, BYD baru mengajukan permohonan pendaftaran merek “M6” pada 22 November 2024, yang kini masih dalam tahap pemeriksaan substantif.

BMW Tegaskan Hak Eksklusif Atas Nama “M6”

Jodie O’tania, Direktur Komunikasi BMW Group Indonesia, menegaskan bahwa BMW adalah pemilik sah merek “M6” dan telah mengambil langkah hukum untuk melindungi identitas serta reputasi merek mereka yang telah dikenal luas di dunia otomotif. “Kami mengambil langkah hukum untuk memastikan merek BMW tetap dilindungi di Indonesia,” ujar Jodie dalam sebuah pernyataan pada Selasa (4/3/2025).

BYD Indonesia Optimis Tak Terganggu oleh Gugatan

Menanggapi gugatan tersebut, Luther Panjaitan, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, mengonfirmasi adanya sengketa hukum antara pihaknya dengan BMW. Namun, ia menekankan bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi operasional bisnis BYD di Indonesia.

“Benar bahwa ada gugatan dari BMW AG, namun kami yakin bahwa hal ini tidak akan mempengaruhi kelancaran operasional kami di Indonesia. Tim hukum kami terus memantau perkembangan kasus ini, dan kami optimis bisa menemukan solusi terbaik untuk kedua belah pihak,” ujar Luther.

Meskipun menghadapi sengketa hukum, BYD tetap berkomitmen untuk melanjutkan ekspansi mereka di pasar Indonesia, memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan, dan mempertahankan status mereka sebagai salah satu pemain utama dalam pasar kendaraan listrik Tanah Air.

Kondisi Pasar Listrik Indonesia Terus Berkembang

Keberhasilan BYD M6 di pasar Indonesia menunjukkan potensi besar untuk kendaraan listrik, khususnya MPV yang ramah lingkungan. Seiring dengan pertumbuhan sektor kendaraan listrik, sengketa hukum ini menjadi salah satu tantangan bagi BYD, namun hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk terus berinovasi dan memberikan pilihan baru bagi konsumen Indonesia yang semakin sadar akan pentingnya keberlanjutan dan efisiensi energi.

Masa depan industri otomotif Indonesia kini tampaknya semakin cerah, dengan semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik yang tersedia di pasar, meski tetap ada tantangan yang harus dihadapi.

BYD Sealion 07 Hybrid Resmi Dirilis, Dilengkapi Autopilot Canggih dan Drone Pintar

BYD secara resmi memperkenalkan SUV plug-in hybrid terbarunya, Sealion 07 DM-i Intelligent Driving Edition, di pasar China. Kendaraan ini dibekali dengan teknologi autopilot inovatif “God’s Eye C” yang menjadi ciri khas BYD. Selain itu, mobil ini juga dilengkapi sistem drone pintar bernama Ling Yuan.

Mengutip dari CNEVPost, BYD baru saja mengembangkan teknologi drone cerdas yang dinamakan Ling Yuan. BYD mengklaim bahwa sistem ini menjadi yang pertama di dunia dalam kategori tersebut. Drone ini ditempatkan di bagian atap kendaraan dan dapat digunakan oleh pengemudi untuk merekam berbagai momen menarik selama perjalanan.

Perangkat ini mencakup hanggar drone, unit drone itu sendiri, serta modul pemosisian yang terintegrasi. BYD juga menyediakan aplikasi Ling Yuan, perangkat lunak berbasis AI untuk pengenalan objek, serta software editing foto dan musik. Hanggar drone memiliki luas 0,29 meter persegi saat terbuka, dengan ketebalan mencapai 21,5 cm.

Sistem ini memungkinkan drone lepas landas dan mendarat secara otomatis saat kendaraan melaju dengan kecepatan hingga 25 km/jam. Selain itu, drone dapat kembali secara otomatis dalam radius 2 km dan mampu mengikuti kendaraan dengan kecepatan maksimal 54 km/jam. Jika baterai mulai melemah, drone akan kembali ke hanggar untuk melakukan pengisian daya, yang hanya memerlukan waktu 30 menit dari kapasitas 20 persen hingga 80 persen. Dengan kehadiran sistem ini, pengalaman berkendara menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Carnewschina, Sealion 07 DM-i Intelligent Driving Edition dikategorikan sebagai SUV berukuran sedang hingga besar. Mobil ini memiliki dimensi panjang 4.880 mm, lebar 1.920 mm, dan tinggi 1.750 mm dengan jarak sumbu roda 2.820 mm.

Dari segi fitur, mobil ini dilengkapi sistem autopilot “God’s Eye C” dengan sensor Lidar di atap yang mampu melakukan navigasi perkotaan, navigasi jalan raya, serta asisten parkir. Dibandingkan dengan sistem bantuan mengemudi Level 2 yang biasanya hanya berfungsi di jalan raya, teknologi ini memungkinkan kendaraan mendeteksi dan berinteraksi dengan lampu lalu lintas, rintangan, serta melakukan manuver menyalip secara otomatis di lingkungan kota.

BYD menyediakan opsi penggerak dua roda dan empat roda untuk model ini. Varian berpenggerak empat roda disebut sebagai Sealion 07 DM-p, yang merupakan model pertama yang menggunakan teknologi DM generasi kelima (DM 5.0) dari BYD. Teknologi ini mengandalkan sistem hybrid plug-in yang terdiri dari mesin 1.5T serta dua motor listrik. Mesin bensinnya memiliki tenaga maksimal 115 kW (154 hp), sementara motor depan mampu menghasilkan 200 kW (268 hp), dan motor belakang 150 kW (201 hp). Dengan kombinasi tersebut, akselerasi 0-100 km/jam dapat dicapai hanya dalam 4,7 detik.

Sengketa Merek Berlanjut: Setelah Denza, BYD Hadapi Gugatan dari BMW

Di tengah meningkatnya popularitas BYD di Indonesia, perusahaan ini menghadapi sengketa hukum terkait penggunaan merek dagang. PT BYD Motor Indonesia kini tengah bersengketa dengan Bayerische Motoren Werke Aktiengesellschaft (BMW AG) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengenai penggunaan nama “M6”.

Jodie O’tania, selaku Director of Communications BMW Group Indonesia, menegaskan bahwa pihaknya adalah pemilik sah dari merek dagang M6. “BMW Group Indonesia berkomitmen melindungi hak kekayaan intelektual serta menjaga kualitas dan eksklusivitas produk kami,” ujarnya pada Selasa (4/3/2025).

Sementara itu, BYD telah memasarkan M6 sebagai model MPV listriknya dan mengakui adanya gugatan hukum dari BMW AG. Luther Panjaitan, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, membenarkan bahwa kasus ini tengah ditangani oleh divisi hukum perusahaan mereka.

Berdasarkan data dari Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) Kemenkumham, BMW AG telah mendaftarkan merek M6 sejak 20 Agustus 2015 dengan nomor permohonan D002015035540. Hak perlindungannya berlaku hingga 20 Agustus 2025. Merek ini terdaftar dalam kategori kelas 12, yang mencakup kendaraan bermotor beserta komponen strukturnya.

Di sisi lain, BYD juga telah mengajukan pendaftaran merek M6 pada 22 November 2024 dengan nomor permohonan DID2024122107, yang saat ini masih dalam tahap pemeriksaan substantif. Kelas yang diajukan serupa dengan yang telah didaftarkan BMW.

Sengketa Merek Denza

Selain perselisihan mengenai M6, BYD juga menghadapi permasalahan hukum terkait merek “Denza”. Nama ini telah didaftarkan oleh perusahaan lokal, PT WNA, pada 3 Juli 2023, dengan perlindungan merek yang berlaku hingga 3 Juli 2033. Berdasarkan data PDKI Kemenkumham, merek Denza dengan nomor IDM001176306 terdaftar untuk kategori barang atau jasa terkait komponen kendaraan bermotor.

Pihak BYD menegaskan bahwa merek Denza telah dikenal secara global sebagai bagian dari bisnis mereka, bahkan sebelum BYD memasuki pasar Indonesia. Oleh karena itu, BYD tetap menggunakan nama tersebut di Tanah Air.

Menanggapi situasi ini, BYD telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan nomor perkara 1/Pdt.Sus-HKI/Merek/2025/PN Niaga Jkt.Pst. Gugatan ini didaftarkan sejak 3 Januari 2025 dan kini masih dalam proses persidangan.

BYD Siapkan Tang L dan Han L, SUV Canggih dengan Teknologi LiDAR

Produsen otomotif asal China, Build Your Dream (BYD), kembali menarik perhatian dengan merilis gambar siluet dua model SUV terbaru mereka, Tang L dan Han L. Kedua kendaraan ini diklaim memiliki kecerdasan berkendara yang lebih baik berkat penerapan teknologi LiDAR, yang untuk pertama kalinya digunakan pada mobil-mobil BYD.

Meskipun detail resmi masih dirahasiakan, desain Tang L dan Han L tampak modern dan aerodinamis. Salah satu fitur paling mencolok adalah sensor LiDAR yang diposisikan di bagian atas kaca depan, memungkinkan kendaraan memetakan lingkungan sekitar dalam bentuk 3D dengan akurasi tinggi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kendaraan dalam sistem berkendara otonom.

Tang L merupakan SUV berukuran besar yang menjadi andalan BYD, sementara Han L adalah sedan dengan dimensi sedang hingga besar. Keduanya akan tersedia dalam varian hibrida (DM-i dan DM-p) serta listrik murni. Tang L memiliki panjang 4.870 mm, lebar 1.950 mm, dan tinggi 1.725 mm, dengan jarak sumbu roda 2.820 mm. Sedangkan Han L hadir dengan panjang 4.995 mm, lebar 1.910 mm, dan tinggi 1.495 mm, serta jarak sumbu roda 2.920 mm.

Hingga saat ini, spesifikasi teknis kedua model masih belum diungkap. Namun, sebagai model premium dengan teknologi canggih, harga keduanya diperkirakan lebih tinggi dibandingkan model BYD lainnya. Peluncuran Tang L dan Han L terjadi di tengah persaingan ketat di industri kendaraan listrik China. Pada 2024, BYD mencatat penjualan yang mengesankan, dengan total 4.272.145 unit kendaraan listrik baru, termasuk 153.365 unit dari keluarga Tang dan 258.452 unit dari keluarga Han.

Denza N9 Akan Segera Meluncur: SUV Canggih dari BYD dengan Fitur Futuristik dan Jarak Tempuh Listrik Murni yang Meningkat

Denza BYD, melalui General Manager Zhao Changjiang, mengumumkan bahwa mobil listrik mereka, Denza N9, akan resmi diluncurkan pada Maret tahun ini. Meski peluncurannya masih beberapa bulan lagi, Denza N9 telah tersedia di beberapa diler resmi di China, dan calon konsumen dapat melakukan pemesanan serta melakukan uji coba kendaraan sebelum memutuskan untuk membeli. Langkah ini memberi kesempatan bagi calon pembeli untuk merasakan langsung performa mobil sebelum membelinya.

Denza N9 hadir dengan dimensi besar sebagai SUV ukuran penuh, panjang 5.258 mm, lebar 2.030 mm, tinggi 1.830 mm, serta jarak sumbu roda 3.125 mm, yang memberikan kenyamanan dan stabilitas. Mobil ini menggunakan platform e3 BYD, serta mengusung berbagai fitur canggih yang dapat menarik perhatian, seperti kemampuan untuk bergerak secara lateral (gerakan samping) dan kemudi roda belakang yang inovatif.

Di bagian dalam, Denza N9 mengutamakan kenyamanan dengan tiga layar besar, layar HUD (Head-Up Display), serta roda kemudi multifungsi dengan empat jari-jari. Fitur-fitur lainnya yang mendukung kenyamanan termasuk tuas transmisi elektronik, panel pengisian daya nirkabel ganda, layar langit-langit, lemari es, kursi baris kedua yang independen, serta sunroof panorama yang memberikan pengalaman perjalanan yang menyenangkan.

Varian PHEV dari Denza N9 hadir dengan mesin 152 kW dan tiga motor listrik 200 kW/240 kW/240 kW, yang menghasilkan daya gabungan sebesar 680 kW. Menariknya, BYD mengonfirmasi bahwa jarak tempuh listrik murni untuk model hibrida meningkat lebih dari 200 km, yang merupakan peningkatan signifikan dari estimasi awal sekitar 165 km. Versi awal Denza N9 hanya tersedia dalam pilihan PHEV, sementara varian listrik murni diperkirakan akan segera menyusul.

Mobil China Makin Laris di Indonesia, Imlek Jadi Momentum Kemenangan?

Merek mobil asal China semakin menunjukkan eksistensinya di pasar Indonesia. Tidak hanya sekedar menjadi alternatif, mobil-mobil China kini menduduki posisi penting dan bahkan sering masuk dalam daftar kendaraan terlaris di Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa mobil China semakin diterima baik oleh masyarakat Tanah Air.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara nasional pada tahun 2024 tercatat mencapai 865.723 unit. Dari jumlah tersebut, sekitar 6,2 persen atau sekitar 53.000 unit berasal dari mobil-mobil produksi China. Hal ini menunjukkan tren positif terhadap kendaraan asal Tiongkok yang semakin diminati oleh konsumen Indonesia.

Sebanyak 12 merek mobil China kini bersaing ketat di pasar Indonesia, antara lain Wuling, BYD, Chery, Morris Garage (MG), DFSK, Seres, Neta, Tank, Baic, Haval, Ora, dan Aion. Di antara merek-merek tersebut, Wuling masih memimpin dengan penjualan terbanyak.

Wuling, yang pertama kali hadir di Indonesia pada 2017, berhasil mencatatkan penjualan wholesales (distribusi pabrik ke dealer) sebanyak 21.923 unit pada tahun 2024. Pencapaian ini menempatkannya dalam daftar 10 mobil terlaris di Indonesia. Sementara itu, penjualan retail sales (dari dealer ke konsumen) Wuling mencapai 25.067 unit, yang menempatkan merek ini di peringkat kedelapan.

Mengikuti Wuling, BYD yang baru memasuki pasar Indonesia sejak beberapa bulan lalu, juga berhasil mencuri perhatian masyarakat. Dengan distribusi sebanyak 15.429 unit secara wholesales dan 13.946 unit retail sales, BYD menunjukkan performa yang luar biasa mengingat perusahaan ini baru beroperasi di Indonesia kurang dari setahun. Kendaraan listrik BYD turut menjadi daya tarik utama, bersaing sengit dengan merek-merek besar lainnya.

Chery, yang merupakan pemain lama di pasar internasional, juga mencatatkan hasil yang cukup signifikan dengan distribusi sebanyak 9.191 unit secara wholesales dan 8.626 unit retail sales pada tahun 2024. Merek ini kini menempati posisi ketiga dalam daftar penjualan mobil China di Indonesia.

Morris Garage (MG), merek asal Inggris yang kini berada di bawah naungan Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC), menduduki peringkat keempat dengan total penjualan sebanyak 3.974 unit secara wholesales dan 4.123 unit secara retail sales.

Daftar penjualan mobil China lainnya menunjukkan beragamnya pilihan yang semakin diminati konsumen, dengan merek-merek seperti AION, DFSK, Tank, dan Neta perlahan-lahan memperluas jangkauan mereka di pasar Indonesia.

Data penjualan mobil China di Indonesia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kendaraan dari Tiongkok semakin diterima dan memiliki tempat khusus di hati konsumen Indonesia. Dengan harga yang lebih terjangkau, fitur-fitur modern, serta kualitas yang terus meningkat, mobil China kini menjadi pilihan yang menarik di pasar otomotif Tanah Air.

Gebrakan Baru! BYD Perkenalkan Tiga Mobil Listrik di Korea Selatan

BYD, salah satu produsen kendaraan listrik terkemuka di dunia, kini resmi memasuki pasar mobil penumpang di Korea Selatan. Pada 16 Januari 2025, perusahaan asal Tiongkok ini mengadakan konferensi pers di Incheon untuk mengumumkan kehadirannya di Negeri Ginseng. Dalam acara tersebut, BYD meluncurkan tiga model kendaraan listrik sekaligus, yaitu Atto 3, Seal, dan Sealion 7, yang dirancang untuk memperkuat pasar kendaraan ramah lingkungan di Korea Selatan.

Langkah ekspansi ini merupakan upaya BYD untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama di sektor kendaraan listrik global. Model unggulan Atto 3 hadir dalam dua varian, Standar dan Plus, dengan masing-masing dilengkapi baterai lithium iron phosphate berkapasitas 60,48 kWh. Baterai ini mampu memberikan jarak tempuh hingga 321 kilometer dalam sekali pengisian penuh. Selain itu, kendaraan ini didukung fitur pengisian cepat, yang memungkinkan baterai terisi dari 20% hingga 80% hanya dalam waktu sekitar 30 menit, menjadikannya solusi ideal bagi konsumen yang mengutamakan efisiensi waktu.

Harga Atto 3 di Korea Selatan dimulai dari 31 juta won, atau sekitar Rp 337 juta, lebih tinggi dibandingkan harga di Tiongkok, di mana model ini dikenal sebagai BYD Yuan Plus dengan harga sekitar Rp 267 juta. Meskipun demikian, BYD optimis bahwa kualitas dan performa kendaraan ini mampu menarik perhatian konsumen Korea Selatan.

BYD sebenarnya telah hadir di Korea Selatan selama hampir satu dekade melalui sektor kendaraan komersial, seperti bus listrik, truk listrik, dan forklift listrik. Namun, langkah ini menjadi debut mereka di pasar mobil penumpang. Untuk mendukung peluncuran ini, BYD menggandeng enam dealer resmi serta merencanakan pembukaan 15 showroom dan 11 pusat layanan di kota-kota besar seperti Seoul dan Pulau Jeju.

Cho In-cheol, Kepala Divisi Mobil Penumpang BYD Korea Selatan, menyampaikan bahwa perusahaan akan menjalin kerja sama erat dengan para dealer untuk memberikan pengalaman berkendara yang optimal kepada konsumen. Selain itu, BYD juga berencana memamerkan model terbaru mereka pada Seoul Mobility Show pada April 2025, sebagai langkah strategis memperkenalkan teknologi ramah lingkungan mereka kepada publik Korea Selatan.

Ekspansi ini sejalan dengan tujuan BYD untuk mendukung pengembangan pasar kendaraan listrik di Korea Selatan, sekaligus mendukung komitmen negara tersebut dalam menekan emisi karbon dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Salip Ford Perusahaan BYD Jadi Produsen Mobil Terbesar Keenam Di Dunia Saat Ini

Pada akhir tahun 2024, perusahaan otomotif asal Tiongkok, BYD, berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa dengan menjadi produsen mobil terbesar keenam di dunia, menyalip Ford. Pencapaian ini tak lepas dari strategi BYD yang berfokus pada pengembangan kendaraan listrik (EV) dan inovasi teknologi dalam produksi mobil. Melalui pertumbuhan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, BYD berhasil memperkuat posisinya di pasar global.

Salah satu faktor kunci yang mendorong kesuksesan BYD adalah dominasi perusahaan dalam segmen kendaraan listrik. BYD, yang awalnya dikenal sebagai produsen baterai, telah berhasil mengembangkan berbagai model EV yang sangat diminati, tidak hanya di pasar domestik Tiongkok, tetapi juga di pasar internasional. Kendaraan listrik yang ramah lingkungan, efisien, dan terjangkau dari BYD telah menarik perhatian konsumen di berbagai negara, mempercepat ekspansi mereka ke pasar global.

Dengan memimpin penjualan mobil listrik, BYD kini berada di atas Ford dalam hal volume penjualan. Ini merupakan pencapaian signifikan, mengingat Ford telah menjadi pemain utama dalam industri otomotif global selama lebih dari seratus tahun. Keberhasilan BYD ini juga mempertegas tren global yang semakin berfokus pada kendaraan listrik sebagai alternatif ramah lingkungan dan berkelanjutan, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perubahan iklim dan kebijakan pengurangan emisi.

Pada 2024, BYD mencatatkan angka penjualan yang mengesankan dengan lebih dari 4 juta unit mobil terjual, sebagian besar berasal dari kendaraan listrik. Meskipun pandemi COVID-19 sempat menekan industri otomotif, BYD berhasil memanfaatkan kesempatan dengan memperkenalkan berbagai model EV baru yang mampu menarik minat konsumen. Penjualan ini tidak hanya mencakup Tiongkok, tetapi juga mencakup pasar utama lainnya seperti Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Untuk mempertahankan posisinya sebagai produsen mobil terbesar keenam di dunia, BYD terus berinovasi dalam teknologi mobilitas, termasuk mengembangkan teknologi baterai dan sistem penggerak listrik yang lebih efisien. Selain itu, BYD juga memperluas jangkauan produksinya dengan membangun pabrik di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Brasil, untuk memudahkan distribusi produk ke pasar global. Mereka juga menggandeng berbagai mitra untuk memperkuat jaringan distribusi dan layanan purna jual.

Meski mencapai kesuksesan, BYD tetap dihadapkan pada tantangan besar, terutama dalam persaingan dengan produsen mobil global lainnya seperti Tesla, Volkswagen, dan General Motors. Namun, dengan inovasi berkelanjutan, komitmen terhadap kendaraan listrik, serta ekspansi global yang agresif, BYD memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan mendominasi pasar mobil dunia di masa depan.