Mudik menjadi tradisi yang tak terpisahkan saat menyambut Hari Raya Idulfitri. Banyak orang memilih menggunakan kendaraan pribadi, baik untuk perjalanan dekat maupun jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, tren mobil listrik semakin meningkat karena dianggap lebih hemat dan perawatannya lebih sederhana dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. Namun, apakah benar mobil listrik lebih ekonomis untuk perjalanan jauh saat mudik?
Dari segi biaya bahan bakar, mobil listrik memang lebih unggul. Pengisian daya di rumah untuk menempuh jarak 100 km hanya membutuhkan biaya sekitar Rp10.000–Rp15.000, sedangkan mobil bensin bisa menghabiskan Rp50.000–Rp70.000 tergantung jenis kendaraan dan harga BBM. Meski demikian, perjalanan mudik memiliki tantangan tersendiri bagi pengguna mobil listrik, terutama dalam hal ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Tidak semua jalur mudik memiliki SPKLU yang tersebar merata, sehingga pengemudi harus merencanakan perjalanan dengan cermat agar tidak kehabisan daya di tengah jalan.
Waktu pengisian daya juga menjadi pertimbangan penting. Jika menggunakan fast charging, pengisian daya hingga 80 persen membutuhkan waktu sekitar 30–60 menit. Namun, jika hanya tersedia charger biasa, prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam. Bandingkan dengan mobil bensin yang cukup mampir ke SPBU dan dalam hitungan menit sudah bisa melanjutkan perjalanan. Dalam kondisi mendesak atau jalur yang macet, waktu pengisian ini bisa menjadi kendala.
Keunggulan lain mobil listrik adalah perawatan yang lebih sederhana. Tidak perlu mengganti oli dan komponen mesinnya lebih sedikit dibandingkan mobil bensin. Namun, ada risiko tersendiri jika baterai habis di lokasi yang jauh dari SPKLU. Solusinya adalah memanggil towing atau mencari tempat pengisian daya darurat, yang tentunya akan menambah biaya dan waktu perjalanan.
Dari segi nilai jual kembali, mobil bensin masih lebih stabil dibandingkan mobil listrik. Perkembangan teknologi yang pesat membuat harga baterai masih mahal, sehingga nilai jual mobil listrik bisa turun lebih cepat dibandingkan mobil bensin yang sudah lebih matang di pasar otomotif.
Jadi, pilihan kendaraan untuk mudik tergantung pada kondisi perjalanan dan kebutuhan masing-masing. Jika jalur mudik memiliki banyak SPKLU dan pengisian daya bisa dilakukan dengan mudah, mobil listrik bisa menjadi pilihan hemat. Namun, jika ingin perjalanan lebih praktis tanpa khawatir mencari tempat pengisian daya, mobil bensin tetap menjadi opsi yang lebih nyaman. Yang terpenting, pilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan agar perjalanan mudik tetap lancar dan menyenangkan.